Monthly Archives June 2016

KAASTENGELS

Aku menyebutnya “kue bata”. Bentuknya memang mirip bata, dalam bentuk kecil. Permukaannya agak kuning kecoklatan. Rasanya gurih-asin. Sehabis makan satu, kepingin satu lagi, begitu seterusnya. Lalu kerongkongan terasa haus. Kalau sudah begini, es dengan stroop frambozen dari merek Sarangsari jadi obatnya.

Ibu selalu membuat kue itu menjelang Lebaran. Ia membeli terigu berberapa kilo di pasar, yang jaraknya hanya 50m dari rumah. Terigu dijemur sebentar dengan menggunakan tampah yang diletakkan di kursi makan di halaman belakang. Sesudahnya, terigu diayak. Semua itu dilakukan agar terigu terbebas dari kutu. Rasanya ibu semakin hafal di toko mana terigu yang kutunya lebih sedikit. Sementara itu kakak perempuanku membantu memarut kelapa untuk mendapatkan santan.

Terigu lalu diberi air, diuleni, dengan mencampurkan santan, mentega Palmboom, garam, dan beberapa butir telur ayam kampung. Terigu itu diaduk dengan tangannya, sesekali dibanting, lalu diaduk lagi. Ibu seperti sedang bermain lempung. Sesudah itu dibiarkannya adonan itu berada di dalam baskom. Selembar serbet putih belacu bekas karung terigu dipakai sebagai penutup. Serbet itu sengaja dibasahi agar adonan tidak mengering dan mengeras.

Ia selalu menggunakan plastik tebal transparan yang umumnya digunakan sebagai penutup taplak meja makan. Ukurannya kecil, sekitar 0.5mx1m. Plastik itu sesudah digunakan, dibersihkan, lalu disimpan kembali. Jadi, kali ini, plastik simpanan itu dikeluarkan dan digunakan lagi. Digelar di atas meja makan di ruang tengah.

Adonan diambil segenggam dua genggam. Dengan menggunakan bekas botol kecap yang berwarna hijau, adonan tadi ditekan di atas permukaan plastik. Digilas maju-mundur hingga pipih sesuai ukuran yang dikehendakinya. Lalu, sebuah cetakan aluminium berlubang-lubang empat persegi panjang diletakkan di atas adonan. Ditekannya. Adonan itu pun terpotong-potong bagai batu bata mungil.

Sebuah nampan aluminium diberi taburan terigu. Di atasnya diletakkan potongan “batu bata mungil” tadi. Kakak laki-lakiku, dengan bantuan kuas cat air, melapis permukaan potongan adonan dengan kuning telur yang telah dikocok. Kini tampak mengilat.

Sementara itu di atas kompor minyak tanah, sudah diletakkan oven dari seng. Jika tidak dipakai, kakakku suka mengambil oven dari rak di atas kompor itu untuk dijadikan mainan “teve-tevean” dengan menutup kaca depannya dengan larutan sagu. Lalu sesudah kering, dengan jari telunjuk, dia menggoreskan logo “TVRI”, satu-satunya stasiun televisi waktu itu. Ke dalam oven itulah, nampan berisi kue “batu bata mungil” tadi dimasukkan. Seingatku ibu tidak mengukur berapa lama pembakaran itu harus dihentikan. Ia cukup hanya dengan melongok keadaan kue melalui jendela kaca oven. Kalau sudah agak kecoklatan, ia segera mengecilkan api dan mengangkat nampan.

Begitulah prosesnya. Kue-kue yang sudah jadi, dimasukkan dalam stoples-stoples kedap udara. Stoples itu berderat pada ujungnya, sehingga bisa berjodoh dengan derat tutupnya yang terbuat dari seng. Pada waktunya, kakakku mewarnai tutup itu dengan warna hijau, merah, atau biru, sesuai pergantian tahun Lebaran, dengan cat Kuda Terbang. Kue-kue itu disiapkan untuk menyambut Lebaran. Ibu memang tidak membeli kue jadi, tapi membuat sendiri.

Stoples itu dengan rapi dimasukkan ke dalam bupet. Aku menyebutnya “kue bata”, ibu menyebutnya “kaastengels”. Rasanya gurih-asin. Kue-kue yang “tidak lolos seleksi” ke dalam stoples adalah kue yang patah atau agak gosong. Rasanya tak kalah enak. Kadang malah lebih gurih. Aku mendapat bonus ini, ditambah yang tidak masuk stoples, karena sudah ikut membantu. Dimakannya nanti, sesudah pukul 12.00, karena seingatku waktu itu aku baru bisa puasa setengah hari.

“Kue bata” alias kaastengels bikinan ibu itu menjadi penanda Lebaran di rumah kami. Pembuatan kue itu di bulan puasa mengubah suasana dapur dan ruang makan. Harum hasil bakaran mentega, telur, gula, sungguh khas. Tangan ibu dan kakak-kakakku memutih oleh tepung terigu. Kain (jarig) batik ibuku kelihatan kotor terkena adonan. Tapi semuanya dilakukan dengan senang.

  admin   Jun 07, 2016   Uncategorized   0 Comment Read More

Bulan Puasa

Setiap kali bulan puasa tiba, selalu ada tambahan kerepotan di rumah. Ibu mengeluarkan lumpang besi beserta alunya dari kolong amben di dapur. Lalu beras diambil beberapa liter dari pendaringan. Dicuci bersih, ditiriskan menggunakan ‘kalo’, anyaman bambu berbentuk lingkaran.

Kakakku kebagian tugas menumbuk beras itu. Ia memasukkan beberapa cangkir ke lumpang. Lalu ditumbuk sampai halus. Sebuah saringan berbentuk bundar, yang mirip rebana, digunakan untuk mendapatkan tepung. Tepung beras diambil dari lumpang dengan sendok nasi. Lalu diletakkan di atas saringan. Saringan itu digoyang-goyang, butiran halus berwana putih berjatuhan ke tampah yang dialasi kertas koran. Mungkin karena sudah terlalu lama dipakai, saringan berbahan kawat halus itu sebagian berlubang. Lubang itu ditambal dengan kertas dan lem agar beras yang belum tersaring tidak ikut jatuh ke tampah.

Mula-mula aku ikut membantu menuangkan beras. Lalu mencoba ikut menumbuk. Beras itu kelihatan terpukul ke kiri dan ke kanan. Kadang berbunyi ‘teng’, karena ujung alu menyentuh lumpang. Besi bertemu besi. Lima belas menit berlalu, belum juga halus. Setengah jam, juga belum bisa diambil untuk disaring. Menumbuk beras kuanggap sebagai pekerjaan yang membosankan dan menekan. Sebelum aku kepayahan, pekerjaan itu sudah diambil alih kembali oleh kakakku.

Kakakku kelihatan begitu sabar. Mungkin karena dia sudah besar. Seluruh beras selesai ditumbuk dan menjadi tepung yang menggunung di tampah. Pekerjaan ini bisa dilakukan sampai dua-tiga hari. Bulan puasa adalah bulan libur sekolah. Kami tidak banyak bermain di luar rumah.

Dari tepung itulah ibu kemudian membuat bermacam kue dengan mencampurkan air, gula pasir, dan tape yang diremas halus. Tepung itu diadon ke dalam cucing (mangkuk kecil), lalu dikukus dalam dandang, untuk menghasilkan kue mangkuk yang merekah.

Ibu juga membuat kue apem, baik yang berbentuk bundar maupun dalam bentuk contong dari daun nangka. Kue lainnya, kue pisang, kue lapis. Dari bahan lain, ibu membuat ketan, kolak ubi dan pisang.

Menjelang pukul empat sore, masing-masing kue dimasukkan dalam mangkuk-mangkuk kecil. Ada tambahan pisang raja. Lalu ibu mengeluarkan nampan dari aluminium yang bagian bawahnya berbentuk kotak-kotak. Mangkuk-mangkuk kue ditempatkan di nampan. Selembar serbet putih berbordir menutup sajian itu.

Bersama kakak perempuanku, aku mendapat tugas mengantar sekitar selusin nampan berisi kue itu ke tetangga kiri, kanan, dan belakang rumah. Ini adalah tradisi “ruwahan” di mana kami saling memberi antaran semacam itu ke tetangga, setiap kali akan memulai bulan puasa. Tugas itu tidak pernah kami tolak. Tapi selalu mengundang ketegangan. Sedikitnya dua tetangga di sebelah rumah mempunyai anjing besar dan galak. Dapat kau bayangkan, ketika kedua tangan membawa nampan, pintu dibuka, dan yang keluar anjing galak itu, seakan siap menumpas kami.

  admin   Jun 03, 2016   Blog   1 Comment Read More