Bulan Puasa

  admin   Jun 03, 2016   Blog   1 Comment

Setiap kali bulan puasa tiba, selalu ada tambahan kerepotan di rumah. Ibu mengeluarkan lumpang besi beserta alunya dari kolong amben di dapur. Lalu beras diambil beberapa liter dari pendaringan. Dicuci bersih, ditiriskan menggunakan ‘kalo’, anyaman bambu berbentuk lingkaran.

Kakakku kebagian tugas menumbuk beras itu. Ia memasukkan beberapa cangkir ke lumpang. Lalu ditumbuk sampai halus. Sebuah saringan berbentuk bundar, yang mirip rebana, digunakan untuk mendapatkan tepung. Tepung beras diambil dari lumpang dengan sendok nasi. Lalu diletakkan di atas saringan. Saringan itu digoyang-goyang, butiran halus berwana putih berjatuhan ke tampah yang dialasi kertas koran. Mungkin karena sudah terlalu lama dipakai, saringan berbahan kawat halus itu sebagian berlubang. Lubang itu ditambal dengan kertas dan lem agar beras yang belum tersaring tidak ikut jatuh ke tampah.

Mula-mula aku ikut membantu menuangkan beras. Lalu mencoba ikut menumbuk. Beras itu kelihatan terpukul ke kiri dan ke kanan. Kadang berbunyi ‘teng’, karena ujung alu menyentuh lumpang. Besi bertemu besi. Lima belas menit berlalu, belum juga halus. Setengah jam, juga belum bisa diambil untuk disaring. Menumbuk beras kuanggap sebagai pekerjaan yang membosankan dan menekan. Sebelum aku kepayahan, pekerjaan itu sudah diambil alih kembali oleh kakakku.

Kakakku kelihatan begitu sabar. Mungkin karena dia sudah besar. Seluruh beras selesai ditumbuk dan menjadi tepung yang menggunung di tampah. Pekerjaan ini bisa dilakukan sampai dua-tiga hari. Bulan puasa adalah bulan libur sekolah. Kami tidak banyak bermain di luar rumah.

Dari tepung itulah ibu kemudian membuat bermacam kue dengan mencampurkan air, gula pasir, dan tape yang diremas halus. Tepung itu diadon ke dalam cucing (mangkuk kecil), lalu dikukus dalam dandang, untuk menghasilkan kue mangkuk yang merekah.

Ibu juga membuat kue apem, baik yang berbentuk bundar maupun dalam bentuk contong dari daun nangka. Kue lainnya, kue pisang, kue lapis. Dari bahan lain, ibu membuat ketan, kolak ubi dan pisang.

Menjelang pukul empat sore, masing-masing kue dimasukkan dalam mangkuk-mangkuk kecil. Ada tambahan pisang raja. Lalu ibu mengeluarkan nampan dari aluminium yang bagian bawahnya berbentuk kotak-kotak. Mangkuk-mangkuk kue ditempatkan di nampan. Selembar serbet putih berbordir menutup sajian itu.

Bersama kakak perempuanku, aku mendapat tugas mengantar sekitar selusin nampan berisi kue itu ke tetangga kiri, kanan, dan belakang rumah. Ini adalah tradisi “ruwahan” di mana kami saling memberi antaran semacam itu ke tetangga, setiap kali akan memulai bulan puasa. Tugas itu tidak pernah kami tolak. Tapi selalu mengundang ketegangan. Sedikitnya dua tetangga di sebelah rumah mempunyai anjing besar dan galak. Dapat kau bayangkan, ketika kedua tangan membawa nampan, pintu dibuka, dan yang keluar anjing galak itu, seakan siap menumpas kami.

One Comment

  1. trie Says: November 20, 2016 11:47 am Reply

    dulu semasa masih ada ortu spt itu jg kegiatannya. tp. sekarang sdh tinggal kenangan dan tdk pernah buat lagi

Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*