Uncategorized

KAASTENGELS

Aku menyebutnya “kue bata”. Bentuknya memang mirip bata, dalam bentuk kecil. Permukaannya agak kuning kecoklatan. Rasanya gurih-asin. Sehabis makan satu, kepingin satu lagi, begitu seterusnya. Lalu kerongkongan terasa haus. Kalau sudah begini, es dengan stroop frambozen dari merek Sarangsari jadi obatnya.

Ibu selalu membuat kue itu menjelang Lebaran. Ia membeli terigu berberapa kilo di pasar, yang jaraknya hanya 50m dari rumah. Terigu dijemur sebentar dengan menggunakan tampah yang diletakkan di kursi makan di halaman belakang. Sesudahnya, terigu diayak. Semua itu dilakukan agar terigu terbebas dari kutu. Rasanya ibu semakin hafal di toko mana terigu yang kutunya lebih sedikit. Sementara itu kakak perempuanku membantu memarut kelapa untuk mendapatkan santan.

Terigu lalu diberi air, diuleni, dengan mencampurkan santan, mentega Palmboom, garam, dan beberapa butir telur ayam kampung. Terigu itu diaduk dengan tangannya, sesekali dibanting, lalu diaduk lagi. Ibu seperti sedang bermain lempung. Sesudah itu dibiarkannya adonan itu berada di dalam baskom. Selembar serbet putih belacu bekas karung terigu dipakai sebagai penutup. Serbet itu sengaja dibasahi agar adonan tidak mengering dan mengeras.

Ia selalu menggunakan plastik tebal transparan yang umumnya digunakan sebagai penutup taplak meja makan. Ukurannya kecil, sekitar 0.5mx1m. Plastik itu sesudah digunakan, dibersihkan, lalu disimpan kembali. Jadi, kali ini, plastik simpanan itu dikeluarkan dan digunakan lagi. Digelar di atas meja makan di ruang tengah.

Adonan diambil segenggam dua genggam. Dengan menggunakan bekas botol kecap yang berwarna hijau, adonan tadi ditekan di atas permukaan plastik. Digilas maju-mundur hingga pipih sesuai ukuran yang dikehendakinya. Lalu, sebuah cetakan aluminium berlubang-lubang empat persegi panjang diletakkan di atas adonan. Ditekannya. Adonan itu pun terpotong-potong bagai batu bata mungil.

Sebuah nampan aluminium diberi taburan terigu. Di atasnya diletakkan potongan “batu bata mungil” tadi. Kakak laki-lakiku, dengan bantuan kuas cat air, melapis permukaan potongan adonan dengan kuning telur yang telah dikocok. Kini tampak mengilat.

Sementara itu di atas kompor minyak tanah, sudah diletakkan oven dari seng. Jika tidak dipakai, kakakku suka mengambil oven dari rak di atas kompor itu untuk dijadikan mainan “teve-tevean” dengan menutup kaca depannya dengan larutan sagu. Lalu sesudah kering, dengan jari telunjuk, dia menggoreskan logo “TVRI”, satu-satunya stasiun televisi waktu itu. Ke dalam oven itulah, nampan berisi kue “batu bata mungil” tadi dimasukkan. Seingatku ibu tidak mengukur berapa lama pembakaran itu harus dihentikan. Ia cukup hanya dengan melongok keadaan kue melalui jendela kaca oven. Kalau sudah agak kecoklatan, ia segera mengecilkan api dan mengangkat nampan.

Begitulah prosesnya. Kue-kue yang sudah jadi, dimasukkan dalam stoples-stoples kedap udara. Stoples itu berderat pada ujungnya, sehingga bisa berjodoh dengan derat tutupnya yang terbuat dari seng. Pada waktunya, kakakku mewarnai tutup itu dengan warna hijau, merah, atau biru, sesuai pergantian tahun Lebaran, dengan cat Kuda Terbang. Kue-kue itu disiapkan untuk menyambut Lebaran. Ibu memang tidak membeli kue jadi, tapi membuat sendiri.

Stoples itu dengan rapi dimasukkan ke dalam bupet. Aku menyebutnya “kue bata”, ibu menyebutnya “kaastengels”. Rasanya gurih-asin. Kue-kue yang “tidak lolos seleksi” ke dalam stoples adalah kue yang patah atau agak gosong. Rasanya tak kalah enak. Kadang malah lebih gurih. Aku mendapat bonus ini, ditambah yang tidak masuk stoples, karena sudah ikut membantu. Dimakannya nanti, sesudah pukul 12.00, karena seingatku waktu itu aku baru bisa puasa setengah hari.

“Kue bata” alias kaastengels bikinan ibu itu menjadi penanda Lebaran di rumah kami. Pembuatan kue itu di bulan puasa mengubah suasana dapur dan ruang makan. Harum hasil bakaran mentega, telur, gula, sungguh khas. Tangan ibu dan kakak-kakakku memutih oleh tepung terigu. Kain (jarig) batik ibuku kelihatan kotor terkena adonan. Tapi semuanya dilakukan dengan senang.

  admin   Jun 07, 2016   Uncategorized   0 Comment Read More

Reuni lagi.

Reuni lagi. Siang sehabis gerimis kecil, terjadi pertemuan seru di Kedai Tjikini. Kalau kemarin berkumpul alumnus SD Pius Pekalongan, yang merancang reuni di Bali, kali ini delapan orang panitia dari alumnus SMP Kristen III, jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, ngumpul untuk mematangkan reuni. Rencananya bakal diadakan akhir Mei di Darmawan Park di Sentul. Tampaknya persiapan itu […]

  admin   May 07, 2016   Uncategorized   0 Comment Read More

Foto Rori Syarif Hidayat

Selamat pagi dari Kedai Tjikini. Setelah libur nasional selama dua hari, dan waktu buka kedai berubah, kini waktu buka Kedai Tjikini kembali seperti biasa, pukul 08.30 sd 23.00. Silakan mampir. Tersedia kudapan, kopi, santap utama.  

  admin   May 07, 2016   Uncategorized   0 Comment Read More

Reuni itu artinya kira-kira “kumpul kembali”.

Reuni itu artinya kira-kira “kumpul kembali”. Dan untuk bikin reuni SD Pius Pekalongan angkatan “tahun dulu banget”, 1960-an, yang rencananya akan dihadiri 40-an orang, para eksponen SD itu pun berkumpul di Kedai Tjikini. “Kami memang selalu kompak. Selalu kontak-kontakan.Tapi saya sendiri baru akan ikut reuni untuk pertama kali,” kata mbak Lily Wibisono (paling kanan). Kekompakan […]

  admin   May 06, 2016   Uncategorized   0 Comment Read More

Hari libur kemana?

Hari libur kemana? Luangkan waktu dengan kumpul bersama keluarga. Pada libur nasional berkaitan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, pada Junat 6 Mei 2016, waktu buka Kedai Tjikini berubah dari yang biasanya pukul 08.30 sd 23.00 menjadi pukul 12.00 sd 21.00. Mohon maklum, ya. Mampir! ┬áBagikan

  admin   May 06, 2016   image, tamu, Uncategorized   0 Comment Read More
Page 1 of 3123