Siang Kali Itu

Makan di Kedai Tjikini siang kali ini bersama mbak Niniek L. Karim, mbak Widyawati, dan sutradara Sidi Saleh – yang baru lulus ujian dari PPM. Rawon, gado-gado, lontong cap gomeh, ketupat sayur. Makanan sedap, obrolan yang seru.

Mbak Widya langsung seperti bernostalgia, begitu memperhatikan gedung kuno kedai tjikini. “Dulu saya tinggal di Merdeka Utara, jalan kaki ke sekolah ke jalan Pos”. Lalu, “Kamu jual juga dong pofertjes.” Menurutnya, makanan2 khas tempo dulu cocok dijual di Tjikini. Bitterballen, stamppot, dan seterusnya…

***

Apa saja yang membuat kita cepat lupa? Kita? Ah, sudahlah.

Selalu sama: kaca mata tadi ditaruh di mana, ya? Lokasi undangan resepsi, juga tanggalnya? Nama orang yang jarang ketemu, padahal satu tim dalam penggarapan film. Tapi kalau saya tambahi dengan pertanyaan, apakah sikat gigi sampai dua kali, karena yang pertama lupa, semua protes. Sidi paling ngakak karena merasa paling muda.

“Rawonnya jangan lama ya. Bilang, yang pesen, lima menit lagi mati,” gurau Mbak Niniek.

“Itu nasinya cuma digocek-gocek tuh,” kata Sidi, yang sudah membuat sepiring gado-gado tandas bersih, seakan piringnya tak usah dicuci lagi, saking bersihnya. Dan “upahnya” adalah melanjutkan nasi rawon dari yang duduk di sebelahnya.

Hehe… Matur nuwun sudah pada mampir. Semoga semua sehat. Selalu.

Leave a Reply

Close Menu