Bubur Sumsum

Sedemikian lembutnya bubur ini, seakan-akan tidak ada lagi yang dapat diumpamakan kepadanya selain kelembutan sumsum daging. Demikianlah perumpamaan itu terjadi, dari dulu sampai kini. Salju atau kapas memang juga lembut, tapi bubur ini lebih mirip sumsum tulang. Ia terbikin dari tepung beras yang dimasak dan terus diaduk, hingga menggumpal. Rasanya subtil, tipis-tipis, karena hanya diberi sedikit garam. Gurih, karena dicampur santan ketika dimasak tadi – di atas api kecil.

Lalu adonan dibagi dua. Yang satu dibiarkan putih. Yang lain diberi warna hijau. Itu dari daun pandan suji yang ditumbuk, diberi air sedikit, lalu diperas dan disaring. Pewarna alami yang bau daunnya begitu khas.

Ketika disajikan, ditambahkan santan matang yang dimasak bersama daun pandan wangi. Lalu ditambahkan pula larutan gula aren kental manis. Perpaduan yang lengkap.

Disajikan di @kedaitjikini sebagai salah satu hidangan pembuka, nyaris tiap bulan puasa, bubur ini selalu tersedia. Sementara di kalangan masyarakat Jawa, Bubur Sumsum dikenal sebagai hidangan “pelepas penat”. Ia disajikan biasanya untuk tetangga dan sanak keluarga yang telah ikut “rewang” (bantu-bantu) menyiapkan hajatan selamatan. Rasanya yang manis, dengan unsur gula, dianggap dapat memulihkan rasa capek rewang-rewang.

Di berbagai pojok ibukota, kini banyak pula pedagang bersepeda motor, yang mangkal menjual hidangan ini. Dikemas dalam gelas plastik, ada yang dicampur “biji salak” – gumpalan lonjong yang terbuat dari ubi. Pagi atau sore, pedagang itu nampak berjualan

Leave a Reply

Close Menu